Yayasan Bina Lampung Madani (#BalikK(L)ampung)

Post Page Advertisement [Top]

Memulai Pembangunan Hijau dari Rumah: Belajar Memilah Sampah di Desa Gedung Harapan

Memulai Pembangunan Hijau dari Rumah: Belajar Memilah Sampah di Desa Gedung Harapan

 


Persoalan sampah sering kali dianggap sebagai persoalan sederhana: bagaimana menjaga lingkungan agar tetap bersih. Padahal, jika dilihat lebih jauh, sampah berkaitan dengan cara masyarakat mengonsumsi sumber daya, bagaimana pemerintah mengelola lingkungan, serta bagaimana pembangunan dilakukan secara berkelanjutan. Oleh karena itu, membangun kesadaran masyarakat untuk memilah sampah dari rumah bukan sekadar mengajarkan perbedaan antara sampah organik dan anorganik. Pemilahan sampah merupakan langkah kecil untuk membangun kebiasaan baru yang mendukung pembangunan berwawasan lingkungan.

Perspektif inilah yang menjadi dasar kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang dilaksanakan oleh tim dosen dan mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Lampung di Desa Gedung Harapan, Kabupaten Lampung Selatan. Kegiatan bertajuk “Penguatan Kesadaran dan Kapasitas Masyarakat dalam Pemilahan Sampah Berbasis Green Development dan Berwawasan Lingkungan di Desa Gedung Harapan Kabupaten Lampung Selatan” tersebut berangkat dari persoalan sampah yang cukup dekat dengan kehidupan masyarakat.

Berdasarkan observasi awal, pengelolaan sampah rumah tangga di desa masih dilakukan secara konvensional. Sampah belum sepenuhnya dipilah sejak sumbernya, dan sebagian masyarakat masih membakar sampah secara terbuka. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan lingkungan tidak selalu memerlukan solusi yang rumit. Perubahan dapat dimulai dari tingkat rumah tangga melalui peningkatan pengetahuan, kesadaran, dan keterampilan masyarakat.

Ketika Green Development Dimulai dari Rumah

Istilah Green Development mungkin terdengar seperti konsep yang hanya berkaitan dengan kebijakan pemerintah, pembangunan industri, energi bersih, atau isu lingkungan global. Namun, prinsip pembangunan hijau sesungguhnya dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Cara masyarakat menggunakan sumber daya, mengurangi sampah, memilah limbah, dan menjaga lingkungan merupakan bagian dari praktik pembangunan yang berwawasan lingkungan. Atas dasar itu, kegiatan PkM ini menggunakan pendekatan community-based environmental management, dengan menempatkan masyarakat sebagai aktor utama dalam proses perubahan. Masyarakat tidak hanya diberikan informasi, tetapi diajak berdiskusi, berlatih, dan mempraktikkan secara langsung cara memilah sampah rumah tangga.

Kegiatan dimulai dengan sosialisasi mengenai Green Development dan pentingnya pembangunan yang memperhatikan keberlanjutan lingkungan. Materi kemudian diarahkan pada persoalan yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari, yaitu pengelolaan sampah rumah tangga. Peserta dikenalkan pada jenis-jenis sampah dan pentingnya pemilahan sampah organik dan anorganik. Edukasi kemudian dilanjutkan dengan praktik langsung sehingga masyarakat tidak berhenti pada pemahaman teoritis. Dalam proses tersebut, Wawai Waste Foundation turut terlibat sebagai mitra teknis untuk memberikan penguatan mengenai praktik pengelolaan dan pemilahan sampah.

Pengetahuan yang Berubah Menjadi Keterampilan

Salah satu tantangan dalam kegiatan edukasi lingkungan adalah memastikan bahwa pengetahuan yang diperoleh tidak berhenti sebagai informasi. Seseorang dapat mengetahui bahwa sampah harus dipilah, tetapi belum tentu memiliki kebiasaan untuk melakukannya. Karena itu, kegiatan ini tidak hanya mengandalkan metode ceramah, tetapi memadukan sosialisasi, diskusi, pelatihan, praktik langsung, serta pendampingan.

Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pemahaman peserta yang cukup signifikan. Dari 20 peserta yang mengikuti kegiatan, rata-rata nilai pre-test sebesar 71,5 meningkat menjadi 98 pada post-test. Artinya, terdapat peningkatan sebesar 26,5 poin setelah peserta mengikuti rangkaian edukasi dan pelatihan. Lebih jauh, 17 dari 20 peserta atau 85 persen memperoleh nilai 100 pada post-test, sementara seluruh peserta memperoleh nilai minimal 80. Angka tersebut menunjukkan bahwa intervensi edukasi dan praktik memberikan hasil positif, terutama pada aspek pengetahuan dan pemahaman peserta.

Namun, angka tersebut juga perlu dibaca secara proporsional. Peningkatan nilai post-test menunjukkan peningkatan pemahaman, tetapi belum otomatis berarti seluruh peserta telah mengubah perilaku pengelolaan sampah secara permanen di rumah. Perubahan perilaku membutuhkan waktu. Karena itu, kegiatan PkM ini tidak berhenti pada pelaksanaan sosialisasi dan pelatihan. Tim juga menyediakan bahan edukasi dan membuka ruang komunikasi serta konsultasi pascakegiatan. Pendampingan menjadi penting karena masyarakat dapat menghadapi berbagai persoalan ketika mulai menerapkan pemilahan sampah di rumah.

Misalnya, bagaimana membedakan jenis sampah tertentu, bagaimana menyimpan sampah terpilah, atau bagaimana mengelola sampah yang telah dikumpulkan. Dengan demikian, keberhasilan program dapat dilihat dari kemampuan masyarakat untuk menerapkan pengetahuan tersebut secara konsisten. Pada tahap berikutnya, pemilahan sampah bahkan dapat dikembangkan menjadi aktivitas bernilai ekonomi. Sampah yang telah dipilah memiliki peluang untuk dimanfaatkan kembali melalui proses daur ulang maupun pengolahan menjadi produk bernilai guna.

Membangun Desa Hijau dari Hal yang Sederhana

Pengalaman di Desa Gedung Harapan menunjukkan bahwa agenda pembangunan berkelanjutan dapat dimulai dari persoalan yang sangat dekat dengan masyarakat. Green Development tidak harus selalu berbicara tentang proyek besar. Ia dapat dimulai dari keputusan sederhana di dapur rumah, halaman rumah, dan lingkungan sekitar: tidak membakar sampah sembarangan, mengenali jenis sampah, dan mulai memisahkan sampah berdasarkan karakteristiknya. Jika dilakukan secara konsisten dan didukung oleh pemerintah desa, kelompok masyarakat, perguruan tinggi, serta mitra teknis, praktik sederhana tersebut dapat berkembang menjadi sistem pengelolaan lingkungan yang lebih baik.

Pada akhirnya, membangun desa yang berwawasan lingkungan bukan hanya tentang membuat lingkungan terlihat bersih. Yang lebih penting adalah membangun kesadaran bahwa kualitas lingkungan merupakan bagian dari kualitas hidup masyarakat dan keberlanjutan pembangunan itu sendiri. Desa yang bersih dan sehat bukan hanya hasil dari banyaknya petugas kebersihan, tetapi juga dari masyarakat yang memiliki pengetahuan, kapasitas, dan kemauan untuk menjaga lingkungannya. Dari rumah, dari kebiasaan kecil, pembangunan hijau dapat dimulai.


Tentang Kegiatan:

Artikel ini merupakan bagian dari luaran Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) DIPA FISIP Universitas Lampung Tahun 2026 dengan judul “Penguatan Kesadaran dan Kapasitas Masyarakat dalam Pemilahan Sampah Berbasis Green Development dan Berwawasan Lingkungan di Desa Gedung Harapan Kabupaten Lampung Selatan.”

Tim Pengabdi: Irsyaad Suharyadi, S.H.Int., M.Sos. (Ketua); Tety Rachmawati, S.IP., M.A.; Moh. Nizar, S.IP., M.A.; Roby Rakhmadi, S.Sos., M.Si.; serta mahasiswa Mayra Zahra Zandety dan An Nisa Az Zahra Muhtalia.

Sumber Pendanaan: Program PKM DIPA FISIP Universitas Lampung Tahun 2026.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bottom Ad [Post Page]